About Me

My Photo
prita
Loves to read, now try to write.....
View my complete profile

Followers

Friday, October 8, 2010

As I Grow Old......

As I grow old, there's so many lessons of life
As I grow old, there's so many things have to be done
As I grow old, there's so many things to learn

As I grow old, there's so many things have to left behind
As I grow old, there's so much love I have found
As I grow old, there's one thing to remember

Never turn back, No Regret



Happy bornday to me, I guess I will never grow up
Saturday, June 26, 2010

Cemburu

Pernakah anda merasa cemburu? Pastinya pernah, atau malah sering? Tak mengapa kalau memang sering, tapi jangan bilang kalau tidak pernah merasa cemburu, karena cemburu adalah perasaan yang manusiawi sehingga setiap orang pasti pernah mengalaminya. Bahkan dari usia balita sampai dengan usia yang tidak terbatas.

Jika didefinisikan arti kata cemburu itu kira-kira begini: Suatu perasaan dalam diri manusia yang muncul karena adanya keinginan untuk terlihat, diperlakukan dan disejajarkan sama atau melebihi dengan orang lain. Jadi kira-kira perasaan cemburu itu timbul dari adanya perbandingan mengenai satu atau berbagai hal antara satu orang dengan orang lainnya.

Cemburu bukan hanya di alami oleh orang-orang yang sedang memadu kasih, meskipun intensitas untuk cemburu dalam hal ini tergolong lebih besar . Mulai dari bayi usia 6 bulan,perasaan cemburu sudah bisa terlihat. Contohnya jika ibunya terlihat menggendong bayi lainnya maka sibayi akan segera merengek minta perhatian dari ibunya.

Lalu bagaimana jika cemburu datang melanda?

Kita tidak bisa mengontrol kapan perasaan cemburu itu akan datang, dia akan datang kapan saja tanpa ada pemberitahuan sebelumnya, tapi kita bisa mengontrol bagaimana cara kita untuk bereaksi jika perasaan cemburu itu muncul. Kemampuan seseorang untuk mengontrol reaksi itu berbeda-beda. Bisa saja tergantung jam terbangnya, alias semakin dewasa seseorang semakin bagus pengendalian dirinya. Bisa juga tergantung masing-masing kepribadian/pembawaan.

Contohnya jika ada teman yang lulus ujian sementara kita tidak, tentu saja sedikit banyak akan ada perasaan cemburu atau iri, yang bisa mengatasi akan dengan legowo memberikan ucapan selamat dan intropeksi diri dengan belajar lebih giat lagi agar lulus diujian yang akan datang, sementara yang tidak bisa mengatasi rasa cemburunya akan berprasangka bahwa teman yang lulus tersebut nyontek atau dapat bocoran soal dan berbagai macam pikiran yang ga penting lainnya.

Maka dari itu muncul istilah cemburu buta, mungkin istilah itu timbul karena adanya ketidakmampuan seseorang dalam mengendalikan perasaannya dan bereaksi berlebihan karena rasa cemburu yang dideritanya.

Contoh cemburu lainnya, penumpang bis yang duduk dekat jendela akan merasa cemburu yang luar biasa jika melihat penumpang kendaraan pribadi yang duduk dengan nyaman di dalam mobilnya tanpa perlu berdesakan dan kepanasan, padahal dalam waktu yang sama ada penumpang bis lainnya yang merasa cemburu luar biasa pada penumpang bis yang duduk,karena ia harus berdiri. Padahal keduanya membayar dengan harga yang sama namun dengan kenyamanan yang berbeda,maka timbullah kecemburuan. Namun, dengan tingkat pemakluman yang tinggi, jarang sekali terdengar keributan antara penumpang yang duduk dengan yang berdiri.

Lantas apakah kita harus malu mengakui kalau sedang dilanda cemburu?
Kalau memang sudah terlihat nampak cemburu ya sudah akui saja, mengelak toh tidak ada gunanya juga. Dengan mengakui, sebagian beban rasa cemburu (mudah-mudahan) akan terangkat. Bukankah hal itu membuktikan bahwa kita masih manusia?
Thursday, April 22, 2010

Farewell


Well it's time to say goodbye, my friend. I'm glad you stayed until the end
I hope that you've enjoyed the time we spent
Until we meet again just think of me I'll think of you
It was easier to say hello Than to say goodbye
I remember all the fun we had
And all the tears when times were bad
But you were there when we were down and out
And I know that I will not forget
What was written and what was said
And who was there when we were not on top Of the world
Tuesday, April 20, 2010

Striptease (khusus dewasa)

Banyak orang bilang kalau mau disayang suami maka manjakanlah perutnya, alias bikinin masakan yang super duper lezat supaya suami betah makan dirumah dan selalu rindu masakan rumah, sampai iklan bumbu masak di TV pun selalu menggambarkan hal-hal semacam itu.

Trus, apa kabar gue yang ga bisa masak?

Jangankan masak, bumbu dapur aja ga apal. Apal?? Ga tau malah…..saingan gue dalam hal blo’on-blo’on nan bumbu masak adalah Dian, temen kantor gue, hehehehe Sorry Di, gue bongkar rahasia loe yang paling kelam, secara Dian ini parah banget ama hal-hal yang berkaitan dengan dapur melebihi gue……

Bisa-bisa suami gue bakalan jarang pulang ke rumah gara-gara gue ga bisa masak, bisa-bisa dia bakal kepincut ama tetangga sebelah yang jago masak kayak iklan di TV. Bisa-bisa gue bakal di pulangin ke orang tua dan diberhentikan sepihak sebagai istrinya. Segitunyakah???

Emang memanjakan suami harus melalui perutnya aja? Banyak jalan menuju roma fellas…….daripada mikirin perut suami yang ga tau ukuran puasnya gimana, mendingan kita manjakan suami melalui perut kita sendiri, dan dijamin hasilnya bisa langsung terlihat. Ha-hay, mulailah naughty bitchy me.

Salah satunya coba deh untuk striptease, kalau ga pernah lihat pertunjukannya secara langsung, kan bisa belajar lewat film (contohnya filmnya Demi Moore dengan judul yang sama), clip video (contohnya video clip aerosmith)dan DVD (ini yang paling ok buat belajar karena ada step-stepnya, oleh Carmen Electra) bisa dibeli dilapak-lapak DVD bajakan di ITC. Kemudian beli wardrobe yang okeh buat private show, bisa lingerie yang sexy (ingat, sexy bukan berarti terlalu terbuka, ngablak dan murahan) ataupun kostum yang ‘nasty’ (bisa dibeli di Ground Floor Plaza Semanggi, sampe apal gue!) tergantung masing-masing selera deh. Bagus kalo di rumah (baca: di kamar tidur) ada pole, itu tuh tiang yang biasa buat striptease , kalo ga ada ya ga apa-apa, masih ada tembok, halah…..sesuai prinsip tiada pole tembok pun jadi. Kalo pengen suasana yang beda, check-in semalem aja di hotel. Pasang music sesuai selera (lagu favorite gue dalam hal ini in the closetnya Michael Jackson) dan sesuaikan juga ama kostum, dandan maupun polos tanpa make-up boleh aja, yang penting penghayatan yang tinggi alias niat tekad nan bulat supaya pertunjukannya sukses. Untuk itu diperlukan latihan dulu, practices makes perfect, cam kan itu!!

Kalo udah begini, siapa yang peduli kalo kita ga tau yang mana laos mana lengkuas, siapa yang peduli ama semangkuk opor ayam ataupun Soup Iga Bakar, bisa beli di warung kok…..pesan antar juga bisa. Nyari Stripper lebih susah dibanding nyari restoran Padang maupun warung Tegal. Kudu bikin janji, kudu dipercaya ama suppliernya, belum lagi negoisasi harga. Percaya deh, gue dan suami udah mengalami hal ini sebelumnya. Daripada ribet, kenapa ga kita sendiri aja yang belajar jadi stripper.

Ga usah risau dengan bentuk tubuh, asalkan kita pede. Memang diperlukan pede yang sejuta sih bagi pemula, tapi ini kan private show, yang nonton juga suami sendiri, so what gitu loh? Dijamin deh suami ga bakalan memusingkan kelebihan lemak yang ada, karena mereka sudah heboh sendiri ngeliat kita menggerakkan badan sebagai perwujudan sebagian kecil fantasy laki-laki. Lagian dengan beberapa kali latihan nari/olah badan untuk striptease ini, lama kelamaan body akan terbentuk sendiri, ini juga merupakan olah raga loh, jadi dengan latihan striptease kita memperoleh dua manfaat sekaligus, body oke, suami puasss……..dahsyaattt……

So Girls, what are you waiting for? Grab your Thong, and let’s dance…….
Monday, April 19, 2010

Singa-an bukan sunatan

Berawal dari undangan via percakapan di HP yang diterima bokap gue, dari pak Wandi, tukang bangunan yang biasa betulin rumah bokap, adek dan sepupu-sepupu gue. Kata bokap, pak Wandi ini ngundang sunatan anaknya, dan bokap minta diantarkan ke undangan itu di daerah Subang.

Awalnya bokap minta tolong adek gue nganter, tapi ternyata adek gue ga bisa karena ada keperluan lain, jadi beliau kemudian minta dianterin suami gue, kebetulan kita lagi ga ada acara juga, trus sepupu gue lainnya juga ga bisa ikut datang karena ada yang kerja dan ada yang sedang di luar kota.

Menurut bokap, perjalanan paling ga 1-1.5 jam, jadi kita berangkat abis sholat dhuhur, sekitar jam 1 siang. Alhamdulillah perjalanan lancar, sampai keluar di tol Sadang. Sesampai di Sadang, bokap telpon ke pak wandy, kira2 berpa lama lagi sampai subang, ternyata Sadang-Subang masih 40km lagi, wadduuuh.....kirain ga sejauh itu, tapi ya sudahlah tanggung udah sampai di sana ini.....

Ga berapa lama perjalanan tersendat, ternyata di Sadang banyak industry, salah satunya Indorama dan paper tech, bubaran pabrik bikin macet, sempet terucap untuk pulang aja, tapi suami gue maju terus pantang mundur, semangat jalan-jalannya selalu tinggi.
Dalam perjalanan itu kita melewati perkebunan karet milik PTP Nusantara, lupa nama perkebunannya apa, ga bawa kamera pula, jadi ga bisa foto-foto deh.

Setelah sampai di Kabupaten Subang mulailah telpon-telponan antara Pak Wandy dan Bokap, karena sudah sampai kantor kabupaten, bokap nanya kira-kira kemana arahnya, Pak Wandi bilang lampu merah belok kiri, oke setelah lampu merah kita belok kiri, sekitar 10 menit belok kiri tapi ga ada tanda-tanda kehidupan, curigalah kita, telpon lagi, ternyata salah, maksudnya pak wandi setelah lampu merah kedua baru belok kiri, haiyyyaaa.......balik lagi deh.....mana ujan deres pula

Kemudian kita di minta untuk mencari terminal bis, pas ngeliat ternyata belok kanan udah terminal bis, aba-aba mengintruksikan agar lurus saja, lurus terus setelah 10 menit yang di ujung telpon tampak tidak meyakinkan, ternyata kita harus belok kanan menuju terminal bis dan lurus melewatinya, salah lagi, balik lagi. Dan hujan semakin deras plus angin super kuenceng.

Ga berapa jauh melewati terminal bis ada pos polisi diminta belok kiri, oke belok kiri, terus jalan sampai pom bensin, yang jaraknya kira-kira 3km dari pos polisi, pak wandi nya telpon lagi, katanya salah, harusnya belok kanan, halah.....ini sih mulei ngeselin.....balik arah lagi belok kanan, tancaap......

Ga berapa lama pak wandi telpon lagi, dengan menyebut ribuan kata maaf, karena harusnya benar tadi, belok kiri.....ya ampyuuun......emosi deh semobil, kayaknya pak Wandy disorientasi ama arah jalan, dan menurut informasi yang diberikan, dari pos polisi tadi masih 10 km lagi menuju rumah pak Wandi, bener-bener deh nih orang.......

Putar arah dan tancap gas, sesampai di tempat yang di maksud, ternyata kita sudah ditunggu oleh rekan pak wandi untuk menunjukkan sisa perjalanan, dan oh…oh….ternyata kita harus melewati perkebunan tebu kira-kira sepanjang 5 km dengan kondisi jalan yang rusak.

Sesampainya di rumah tujuan, total perjalanan untuk mencapai Tempat Kejadian Perkara 5 jam bo.....dan itu belum cukup, kita masih harus masuk gang lagi dan mobil ga bisa masuk, jadi cukup sampai di situ sajalah perjalanan dengan mobil. Tapi yang bikin kita terdiam dan tergugu dan ternganga membisu adalah jalan masuknya banjir....asli banjir diatas mata kaki dan airnya coklat, yew......bayangin deh, air coklat itu dari mana asalnya, mengingat dikiri-kanan gang adalah kandang ayam dan kandang kambing. Silahkan bayangkan betapa gatalnya kaki gue!!!!!!

Sempat terjadi perang batin, antara tetap di mobil atau turun, karena yang diundang bokap-nyokap, gue bilang aja agar mereka yang turun yang lain nunggu di mobil, asli deh males kudu becek-becekan plus basah-basahan plus geli, tapi kan kita kenal juga, ga enak dong kalo ga turun, kira-kira setelah beberapa menit berunding diputuskan untuk turun semua, tanggung deh sekalian nyemplung!

Karena payung hanya ada satu maka bergantianlah kita turunnya, plus payung pinjaman dari pengundang, karena hujan angin maka payung pun ga ngaruh, tetep aja basah, untung bawa sandal jepit, kalo enggak, selamat tinggal deh charles&keith gue.....

Sesampainya di rumah yang punya hajatan, otomatis dong kita nanya yang di sunat mana, kok tidak nampak dipajang, Nyonya wandi pun menunjuk anak perempuannya, Loh, kok perempuan di sunat???
ternyata bukan sunatan, tapi singa-an, pada tau ga singa-an apaan?? OALAH GUSTIIIII........paringono sabar........

Jadi, menurut adat desa Mangangli-Subang, entah karena anak perempuan satu-satunya ato karena anaknya laki-perempuan (ga jelas deh) itu ada tradisi naik singa-singa an, oh my god! masa naik odong-odong aja dirayain?????
Mungkin ini sejenis ruwatan seperti yang biasa dilakukan masyarakat jawa kuno, entahlah gue juga ga ngerti, bokap gue aja tampangnya ga iklas gitu karena salah denger, dari singa-an jadi sunatan........
Tapi bener loh dirayain, pake tenda, makan-makan ngundang sekampung, sampe nyewa diesel takut listriknya ga kuat, gile bener.....

Pak wandi dan Nyonya sangat seneng loh kita datang ke undangan mereka, pokoknya kita dijamu makan nasi+kentang+gulai ayam, pulangnya kita dibawain 1 kardus berisi aneka macam kripik dan 1 kardus berisi pisang. Tuh kan.....silaturahmi membawa rizki........horeee.....
(berusaha menghibur diri mengingat perjalanan pulang yg akan dilalui.........)


xoxo,
Sunday, April 11, 2010

Hidup adalah perjuangan

Setelah sekian lama ga nyoba nulis lagi, rasanya berat sekali ngumpulin sisa-sisa tenaga dan pikiran untuk sekedar buka notebook dan mulai menulis sesuatu. Setelah malam-malam panjang penuh perjuangan untuk belajar di usia yang ga lagi muda, rasanya tenaga udah abis dan mulai kegiatan hibernasi yang kalau ga segera dihentikan bakalan berkepanjangan. Sesudah sebulan tidur nyaris dini hari demi bisa membaca diktat personal insurances, lega juga akhirnya masa-masa menggelisahkan itu lewat sudah, meskipun hasilnya toh belum ketahuan juga. Yang artinya jika tidak lulus maka selamat datang kembali pada masa-masa suram untuk belajar di tengah malam. Tapi hidup adalah sebuah perjuangan, kalau hanya melakukan rutinitas yang sama selama bertahun-tahun tanpa ada sebuah pencapaian sangatlah dekat dengan sebutan pecundang.

Jangan mau menjadi semacam tipikal orang-orang yang hanya mau sedikit berusaha tapi mengharapkan hasil yang melimpah. Itu hanya terjadi kalau kita adalah anak orang kaya raya, karena segala sesuatu sudah tersedia tinggal comot aja. Tanamkan semangat juang sejak kecil, karena kalau semangat juang baru disadari pada saat beranjak dewasa, sudah terlalu terlambat, sudah jauh tertinggal, akhirnya akan mematikan semangat itu sendiri kalau bukan benar-benar pejuang sejati.

Miris rasanya melihat anak-anak di berbagai belahan bumi Indonesia ini menderita kekurangan gizi, gizi buruk dan sebagainya. Sebuah contoh kecil kurangnya sebuah usaha. Padahal kalau mau, menanam bayam yang sarat dengan gizi tinggi sangatlah mudah, tinggal tancep di pot aja kok. Atau bisa jadi juga sudah tidak ada uang untuk beli pot, suaminya atau istrinya yang bisa di ajak kerjasama untuk menanam minggat entah kemana, para tetangga yang sudah tidak peduli dengan sekitarnya ataupun hanya ekploitasi media massa yang mencari sensasi semata. Entahlah.

Perjuangan selalu diikuti oleh pengorbanan, contohnya mengorbankan waktu untuk pergi ke bioskop tiap minggu demi menghapal pengecualian dalam Polis, mengorbankan waktu tidur atau waktu istirahat dan bersantai demi sebuah latihan soal, mengorbankan tenaga demi sesuap nasi yang dibutuhkan anak-anak kita. Hasil akhirnya kita juga yang menikmatinya baik itu pahit atau manis. Hasil pahit dan manis harus tetap disyukuri karena kita tidak akan pernah tahu sesuatu itu manis tanpa pernah merasakan yang pahit.

Apapun itu, kalau memang layak di perjuangkan, perjuangkanlah. Apa saja, gelar, karir yang lebih baik, kehidupan, cinta dan sebagainya. Kejar selagi bisa dan mampu. Jangan hanya berdiam diri dan mengeluh. Karena hidup ini adalah perjuangan tanpa henti Teman!
Saturday, February 13, 2010

Hakim

Gue belajar hukum, gue lulus sekolah hukum dengan nilai memuaskan dan tepat waktu, tapi gue tidak tertarik sama sekali untuk bekerja dibidang hukum. Entah mengapa sepertinya ada yang salah dengan hukum di negri tercinta ini (menurut gue Pribadi), seperti misalnya Kitab Undang-undang hukum perdata produk penjajah yang dikenal dengan Burgerlijk Wetboek yang usianya sudah terlalu tua, sehingga sudah tidak sesuai lagi dengan perkembangan jaman. Namanya juga bikinan kaum penjajah, tentu saja sedikit banyak akan memberikan keuntungan bagi penjajah, tapi herannya ahli hukum se Indonesia Raya ini kok belum juga sempet memperbarui dengan KUHPerdata yang lebih up to date.
Setelah sekian tahun lulus dari sekolah hukum, dan ketemu teman-teman kuliah dulu ternyata banyak juga yang bekerja sesuai dengan pendidikan yang dimilikinya. Jadi hakim, jaksa maupun bagian legal disuatu perusahaan. Terus terang gue kagum banget sama teman-teman gue yang jadi Hakim, Jaksa maupun Polisi. Pokoknya para pejuang penegak hukum dan keadilan di Bumi Indonesia ini.
Kenapa kagum?
Karena seleksi masuk jadi CPNS hakim, jaksa apalagi polisi itu luarrrr biasa susyah. Hanya orang-orang terpilih lah yang bisa lolos seleksi. Konon kabarnya juga menyangkut sejumlah uang pelicin atau sogokan, tapi Alhamdulillah setelah gue tanya secara pribadi ke teman-teman gue itu, mereka sama sekali ga pake jalur belakang, jadi murni karena otak dan rejeki mereka. Luar biasa.
Satu hal lagi yang membuat gue sangatlah kagum, khususnya untuk teman gue yang hakim. Hakim itu adalah pemutus suatu perkara berdasarkan pengetahuan, bukti-bukti dan fakta-fakta yang ada di persidangan.
Bagaimana mereka tahu kalau putusan yang mereka berikan benar-benar telah memenuhi rasa keadilan semua pihak?
Sedangkan Kitab undang-undangnya aja udah ketinggalan jaman, okelah sekarang sebagian bidang sudah ada Undang-Undang tersendiri, tapi yang bikin undang-undang di Indonesia ini adalah anggota DPR yang ngerti hukum juga kagak kale. Banyakan pengusaha atau malah artis atau politisi-politisi pengincar rupiah semata. Beda dengan mantan penjajah kita dulu yang bikin Burgerlijk Wetboek, anggota DPR mereka haruslah orang yang sekolah hukum, sehingga produk undang-undang yang dihasilkan pun setidaknya memenuhi keadilan semua pihak.
Selain itu, putusan yang mereka hasilkan bukan hanya menyangkut terdakwa saja, namun juga keluarga, sanak saudara dan masyarakat luas, pokoknya hajat hidup dan nasib orang banyak. Kalau salah ngasih putusan, dan memang banyak sekali yang salah, gimana hati nurani mereka karena telah membuat susah banyak pihak? Ada teman yang bilang, hakim pengadilan negeri memberi putusan sesuai yang mereka bisa aja, toh nanti terdakwa bisa banding ke pengadilan tinggi, dan kalau ada yang salah diputusan pengadilan negeri, bisa dikoreksi di pengadilan tinggi. Begitu juga hakim di pengadilan tinggi, kalau mereka salah, kan terdakwa bisa kasasi, biar aja para hakim agung di Mahkamah Agung yang beresin. Gampang sekali ngomong gitu………ini masalah hidup seseorang……..!!!
Menurut gue, jadi hakim itu sangat berat, bukan hanya harus pinter tapi juga harus punya karakter yang kuat. Kalo pinter bisa nyari ilmu di sekolah, tapi kalo karakter kuat ini harus dimulai dari usia dini, dimana system pendidikan di Indonesia banyak yang belum bisa focus untuk membantu anak didiknya membentuk karakter yang kuat. Wah kalo di bahas malah jadi panjang disini.
Jadi gini maksudnya, dalam perkara pidana terdakwa dituntut oleh jaksa, jaksa bikin tuntutan dihukum sekian tahun dengan alasan begini, melanggar pasal itu, dengan bukti berikut. Saksi-saksi mengatakan hal-hal yang berbeda dengan jaksa. BAP dibuat dan ditandatangani dibawah tekanan, dusundut rokok, maupun digencet pistol. Hakim sebagai seorang pemutus perkara, jika melihat kejanggalan-kejanggalan, dapat memerintahkan kepada jaksa untuk memperbaiki dakwaannya, mencari bukti-bukti yang lebih menguatkan sehingga hakim bisa menghasilkan putusan yang adil. Jadi hakim tidak hanya pasrah menerima dakwaan jaksa begitu saja, jika memang kurang sempurna, perintahkan saja untuk diperbaiki, untuk itu diperlukan hakim yang berkarakter kuat untuk benar-benar bisa menegakkan rasa keadilan, kecuali memang udah di setel begitu.
Gue jadi inget, guru ngaji gue jaman SMP dulu pernah titip pesen, kalo gue sudah besar nanti, jangan jadi bintang film, sumpah ini gue ga bo’ong, namanya Pak Suryo, pada waktu itu belum ada sinetron, makanya dia pesen supaya gue ga jadi bintang film bukan bintang sinetron karena takut akan menambah banyak dosa. Padahal menurut gue dosa hakim yang ga bener lebih gede daripada dosa bintang film. Makanya gue ga mau jadi hakim ataupun penegak hukum lainnya, tapi bukan berarti gue mau jadi bintang film loh.